Fenomena Alam Api Abadi di Kota Bojonegoro


Bojonegoro, sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Bojonegoro dikenal dengan julukan "Kota Ledre" nama ini berasal dari makanan ringan khas Bojonegoro yaitu ledre. Selain itu Bojonegoro juga dikenal sebagai "Kota Minyak" karena memiliki potensi minyak bumi yang tinggi. Kota ini menawarkan pesona budaya, sejarah, dan alam. Terletak strategis di antara perpaduan lahan pertanian dan perkebunan, kota ini menggabungkan pesona pedesaan dengan perkotaan.

Bojonegoro dialiri Sungai Bengawan Solo yang mengalir dari selatan, menjadi batas dari Provinsi Jawa tengah, kemudian mengalir ke arah Timur, Bagian utara merupakan daerah aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian Bojonegoro umumnya ditanami padi pada saat musim penghujan dan tembakau pada musim kemarau. Bojonegoro juga salah satu kota mebel kayu jati karena memiliki produk unggulan dan merupakan penghasil kayu jati berkualitas.

Salah satu tempat populer sekaligus tempat fenomena alam yaitu Kayangan Api yang terletak di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Kayangan Api merupakan fenomena geologi berupa gas alam yang keluar. Dekat titik semburan gas, terdapat mata air yang menghasilkan bau menyengat karena mengandung belerang. Dengan kondisi tersebut, api yang menyala di Kayangan Api hingga kini masih menyala dan belum padam. Karena hal itu wisata ini disebut api abadi yang tidak bisa padam. 



Konon, Kayangan Api adalah tempat pertapaan seorang Empu dari zaman Majapahit bernama Empu Supa. Sang Empu melakukan pertapaan dan membuat pusaka di lokasi Kayangan Api. Pusaka yang dibuat Empu Supa yaitu Keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo yang ditempa dan dibakar dengan api yang keluar dari dalam tanah tersebut.

Kayangan Api kini menjadi salah satu objek wisata unggulan Bojonegoro yang banyak dikunjungi wisatawan. Selain itu karena keunikannya, lokasi Kayangan Api yang berada di tengah kawasan hutan menjadikannya tempat yang pas untuk berwisata.


Komentar